Menu
Personal Finance
Knowledge
Work Life
Relationship
Mental Health
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kenapa PayLater Bisa Memperburuk BI Checking?

Kenapa PayLater Bisa Memperburuk BI Checking? Kredit Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
WE Trivia, Yogyakarta -

Semakin banyak orang membayar dengan PayLater karena bisa membeli sesuatu sekarang dan membayarnya belakangan. Terlebih lagi, banyak platform belanja online menawarkan banyak promo untuk pembayaran dengan PayLater. Namun, banyaknya promo ini rentan menyebabkan kita berbelanja secara impulsif, tanpa memikirkan kemampuan kita untuk melunasi utang PayLater. Akibatnya, BI Checking akan memburuk.

Baca Juga: Kenapa BI Checking Kita Harus Bagus saat Pengajuan Kredit?

Mengutip laman resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pinjaman PayLater saat ini sudah masuk dalam pencatatan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Dahulu, SLIK OJK akrab disebut dengan istilah BI Checking.

Dengan kata lain, riwayat pembayaran cicilan PayLater bisa memengaruhi riwayat kredit. Sementara itu, setiap utang harus dilunasi tepat waktu dan tepat jumlahnya. Jika pembayaran tersebut tidak tertib, pinjaman ini akan dianggap sebagai kredit macet dan memperburuk riwayat kredit.

Riwayat kredit adalah angka yang diberikan biro kredit kepada seseorang berdasarkan histori aktivitas kreditnya. Penilaiannya diukur dalam skala Kolektibilitas (Kol) 1-5, di mana Kol 1 adalah kredit lancar hingga Kol 5 adalah kredit macet.

Riwayat kredit pun bisa memburuk akibat beberapa faktor. Faktor utamanya adalah tidak membayar cicilan secara tepat waktu dan tepat jumlah. Tepat waktu artinya membayar cicilan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman. Sementara itu, tepat jumlah artinya membayar cicilan sesuai jumlah utang pokok, bunga, dan biaya lainnya yang harus dibayarkan sesuai perjanjian pinjaman.

Jika kita menggunakan PayLater melebihi kemampuan finansial, kita berisiko tidak bisa melunasinya secara tepat waktu dan tepat jumlah. Sikap kita yang tidak bertanggung jawab atas utang tersebut akan tercatat dalam BI Checking. Akibatnya, riwayat kredit memburuk.

Padahal, riwayat kredit yang buruk bisa mempersulit aspek lain di kehidupan, seperti proses melamar kerja atau pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pasalnya, riwayat kredit yang buruk ini mengindikasikan karakter yang tak mampu bertanggung jawab dalam mengelola keuangan, sehingga dianggap rentan melakukan kecurangan (fraud), berisiko merusak reputasi perusahaan, atau gagal bayar dalam pinjaman jangka panjang seperti KPR.

Penulis/Editor: Citra Puspitaningrum

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Terpopuler

Terkini

Lihat semuanya